Mengenai Nomor Produk
Setiap barang yang diperdagangkan membutuhkan nomor yang unik agar mudah di identifikasikan, sebagaimana halnya kasir di supermarket, setiap barang yang melalui kasir akan di scan nomor barcodenya untuk kemudian diketahui harganya.
Setiap supermarket dapat saja menggunakan nomornya sendiri untuk keperluannya. Secara global penomoran untuk produk ini diatur oleh suatu badan standarisasi internasional.
Penomoran produk untuk barang dan kemasan yang bergerak dalam jalur perdagangan dibagi dalam 2 katagori yaitu:
- Produk yang akan dijual melalui Point of sale (POS) atau kasir, dan
- Produk yang hanya bergerak dalam jalur logistik ; bergerak dari gudang ke gudang dan tidak dijual melalui POS.
Macam Kemasan
Macam kemasan biasanya terdiri dari:
- Single Item, kemasan produk itu sendiri yang akan langsung dijual ke konsumen melalui Point of Sale atau kasir
- Inner Pack, biasanya kemasan dari karton, yang isinya terdiri dari beberapa Single Item, yang bisa juga dijual ke konsumen melalui POS dan bisa juga pergerakannya antar gudang saja.
- Group Item, yang isinya terdiri dari produk yang sama atau Group Item yang dikemas dengan bungkusan plastik, yang biasanya dapat dijual ke konsumen melalui POS.
- Carton atau Case, terbuat dari karton biasanya isinya terdiri dari beberapa Single Item yang sama atau beberapa Inner Pack dan tidak dijual langsung ke konsumen, melainkan bergerak dari gudang ke gudang
Produk yang akan dijual melalui Point of sale (POS) atau kasir
Kemasannya biasanya berbentuk atas satuan produk atau Single Item, kemasan ini disebut Trade Item Unit dan nomornya disebut Global Trade Item Number.
Simbologi barcode yang digunakan adalah GS1-13, struktur penomorannya terdiri dari 12 digit + 1 digit Check Digit (CD). CD digunakan untuk mengecek apakah nomor digit dalam penomoran produk yang digunakan sudah benar, pengecekannya menggunakan sistem modulo 10.
3 digit pertama digunakan untuk mengidentifikasikan negara, 6 digit berikutnya adalah nama produsen, 3 digit berikutnya adalah nomor jenis produk produk dan terakhir adalah CD.
Contoh Barcode disamping; 899 adalah nomor negara dalam hal ini 899 adalah Indonesia. 123400 adalah nama perusahaan produsen, 002 adalah nomor jenis produk dan 2 adalah Check Digit.
Contoh Barcode disamping; 899 adalah nomor negara dalam hal ini 899 adalah Indonesia. 123400 adalah nama perusahaan produsen, 001 adalah nomor jenis produk dan 5 adalah Check Digit.
Contoh diatas menunjukkan bahwa produk tersebut didaftarkan di Indonesia, dari perusahaan produsen yang sama yaitu 123400 dengan jenis produk yang berbeda dan mempunyai nomor jenis produk yang berbeda. 002 dengan demikian Check Digitnya pun berbeda 5.
Contoh nomor barcode diatas 8991234000022 dan 8991234000015 disebut sebagai Global Trade Item Number atau GTIN.
Nomor Produk bersifat signifikan, artinya tidak ada informasi lain yang terkait dengan produk tersebut, kecuali nomor identifikasi, nomor produk merupakan index yang dengan nomor index tersebut dapat diakses informasi terkait dengan produk tersebut dari komputer.
Untuk setiap jenis produk yang berbeda menggunakan nomor yang berbeda pula.
Produk yang bergerak dalam jalur logistik
Produk ini bergerak dari gudang ke gudang dan tidak dijual melalui POS. Kemasannya biasanya berbentuk Carton yang dalamnya terdiri dari beberapa item yang sama. Jenis kemasan ini disebut Logistic Unit dan penomorannya disebut Logistic Unit Number.
Simbologi barcode yang digunakan adalah ITF-14, struktur penomorannya terdiri dari 13 digit + 1 digit Check Digit (CD). CD digunakan untuk mengecek apakah nomor digit dalam penomoran produk yang digunakan sudah benar, pengecekannya menggunakan sistem modulo 10.
Digit pertama adalah Packaging level indicator digunakan untuk mengidentifikasikan level dari kemasan misalnya 0= untuk kemasan yang berisi 12 Trade item, 1= kemasan yang berisi 24 Trade item 2= untuk kemasan yang berisi 36 Trade item, dsb. Digit berikutnya adalah nomor GTIN dan digit yang terakhir adalah Check Digit.
Perlukah Nomor Produk ?
Jawabannya jelas perlu, karena tanpa nomotr produk ini misalnya sebuah supermarket harus menciptakan nomor baru untuk produk yang belum mempunyai nomor produk, setelah itu menempelkan label-label pada produk tersebut satu persatu yang tentunya membutuhkan biaya untuk label dan tenaga.
Sedangkan apabila produsen sudah mempunyai nomornya sendiri, nomor tersebut sudah tercetak pada kemasan dan tidak perlu lagi supermarket untuk menempelkan label pada setiap produk. Ini tentunya akan banyak mengurangi biaya, tenaga dan lebih efisien.
Tags: Sistem Penomoran